11 Juli 2021

Uci Bing Slamet - Bukit Berbunga Lyric

Di bukit indah berbunga
Kau mengajak aku ke sana
Memandang alam sekitarnya
Karna senja t'lah tiba
Mentari tenggelam di bukit yang biru
Langit merah berwarna sendu

Kita pun turun bersama
Melintasi jalan setapak
Tanganmu kau peluk di pundak
Membawa aku melangkah
Tak lupa kau petik bunga warna ungu
Lalu kau selipkan di rambutku

Bukit berbunga, bukit yang indah
Di sana kita s'lalu datang berdua
Memadu cinta
Bukit berbunga
tempat yang indah
Di sana kita s'lalu datang berdua
Di bukit berbunga

Di bukit indah berbunga
Kau mengajak aku ke sana
Memandang alam sekitarnya
Karna senja t'lah tiba
Mentari tenggelam di bukit yang biru
angit merah berwarna sendu

Kita pun turun bersama
Melintasi jalan setapak
Tanganmu kau peluk di pundak
Membawa aku melangkah
Tak lupa kau petik bunga warna ungu
Lalu kau selipkan di rambutku

Bukit berbunga, bukit yang indah
Di sana kita s'lalu datang berdua
Memadu cinta
Bukit berbunga
tempat yang indah
Di sana kita s'lalu datang berdua
Di bukit berbunga

----

Uci Bing Slamet - Bukit Berbunga
Cipt: Yonas Pariera / Akurama Records

05 Juli 2021

Niat Puasa Sunnah Senin Kamis

Di hari Senin ini dan Kamis nanti, umat Islam kerap menjalankan ibadah puasa Senin - Kamis. Amalan ibadah puasa Senin - Kamis sendiri sudah dicontohkan langsung oleh Rasulullah, Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

 

Seperti tertuang dalam hadits tentang puasa Senin - Kamis riwayat At Tirmidzi: "Segala amal perbuatan manusia pada hari Senin dan Kamis akan diperiksa oleh malaikat, karena itu aku senang ketika amal perbuatanku diperiksa aku dalam kondisi berpuasa," hadis riwayat At Tarmidzi.

 

Nah, berhubung pandemi, belum ada tanda-tanda untuk segera berakhir malah semakin memburuk, Bang Emmet nggak bisa kemana-mana. Kerja pun dari rumah Kalau sudah gitu, mending kita puasa Senin-Kamis saja sekalian, betul gak?



Nah, buat yang ingin menjalankan ibadah puasa Senin – Kamis, berikut ini Niat Puasa Senin:


نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

 

"Nawaitu sauma yaumal itsnaini sunnatan lillahi ta'ala”.

 

Arti niat puasa Senin: “Saya niat puasa hari Senin, sunah karena Allah ta'ala"


Niat puasa Senin, keutamaan, hikmah bagi orang yang melakukan puasa Senin Kamis adalah dibukanya pintu surga Ar-Rayyan. Dan seperti sudah disebutkan dalam hadits di atas, amalan manusia juga diperiksa pada kedua hari ini.

 

Tak hanya itu, pahala puasa Senin dan Kamis juga sangat dipertimbangkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

 

Untuk hari Kamis-nya, buat yang ingin menggenapkan puasa Senin – Kamis, berikut ini Niat Puasa Kamis:


نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى


“Nawaitu sauma yaumal khomiisi sunnatan lillahi ta'ala”.


Arti niat puasa Kamis: “Saya niat puasa hari Kamis, sunah karena Allah ta’ala”


Yang menarik, berdasarkan sejumlah penelitian, puasa sesekali seperti yang dilakukan saat puasa sunah Senin Kamis ternyata menawarkan sejumlah manfaat sehat.

 

Sebagai contoh, beberapa manfaat puasa sesekali seperti Senin – Kamis adalah dapat membantu mengatasi jerawat, menurunkan risiko diabetes, menjauhkan darah tinggi dan sejumlah manfaat lainnya.

 

Buat Bang Emmet sih, ada manfaat ekstra: nggak usah keluar duit untuk beli makan, dan bisa memperlambat proses pertumbuhan berat badan. Hitung-hitung sekalian ibadah, sekalian hemat, sekalian sehat. Lumayan kan?

27 Juni 2021

Apa Itu KIPI, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi?

24 jam lebih berlalu setelah gw vaksinasi Covid-19 gratis di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Setelah 24 jam berlalu ini, gw sama sekali nggak merasakan KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Eh, gimana ceritanya sampai dapat vaksin Covid-19?

Beberapa waktu lalu, ada pemberitahuan dari HRD kantor. Katanya, Kodim lewat Koramil setempat kantor gw, Koramil 06/Kelapa Gading, siap membantu karyawan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan yang bersangkutan untuk mendapatkan akses ke vaksinasi Covid-19.

Sebagai warga negara yang baik dan benar, patuh dan bertanggung jawab, tentunya gw ikut ambil bagian dong. Repot soalnya kalo urus sendiri. 

Masalahnya, tempo hari, sempat nanya-nanya ke Polsek terdekat yang katanya juga menggelar vaksinasi untuk warga setempat. Ternyata sudah nggak gelar lagi dan diminta datang ke RT masing-masing untuk minta kupon. Padahal poster yang disebar via WA, masih di dalam periode tanggal vaksinasinya. 

Sempat juga coba daftar dari website rumah sakit teredekat. Penuh juga. Hadeuh.

Posting WhatsApp sih bersebaran di mana-mana hampir setiap hari. Tapi setiap dicek tempat pendaftarannya, selalu sudah tutup, sudah penuh dan sudah tidak terima pendaftaran lagi. Ya sud lah. Kebetulan kan, ada Koramil yang bisa menyalurkan? 

Meskipun cuma untuk karyawan saja, tidak untuk pasangan, ya sud lah ya. Daripada nggak. Semoga ada jalan supaya Ny. Emmet juga bisa dapat vaksin.

Anyway, dari Jumat sore kemarin, kita dibuatkan WhatsApp group untuk memudahkan koordinasi. Dan di dalamnya ada pak Babinsa yang jadi koordinator. Informasinya, Sabtu pagi jam 7.30 kita berangkat dengan 3 bus Transjakarta dari Koramil 06/Kelapa Gading ke Pintu H, Gelora Bung Karno.

Untungnya, karyawan yang lebih dekat ke GBK daripada ke kantor, boleh langsung datang ke GBK dan tunggu rombongan di sana. Alhasil, ke GBK lah gw, jam 7 pagi dari rumah. Sampai sana, jam 8 kurang udah di-drop bini. Dia langsung cuss karena gak ikutan vaksin.

Tanya punya tanya, ternyata vaksinasinya di dalam lapangan GBK. Dan untuk warga Jakarta Utara (karena kantor berlokasi di Jakarta Utara), disuruh masuk lewat gate 42 dan duduk lah gw di sana.






Setelah cari posisi santai, dekat pintu ke lapangan dan instagrammable, santai lah gw sejenak. Eeh, ternyata, ada pengumuman. Mustinya Jakarta Utara masuk lewat gate 41. Ya sud lah, bergeserlah gw. Balik lagi ke atas dan masuk lewat pintu Gate 41, karena antara bangku penonton di gate 42 dan 41 ada pagar. Kayaknya ini pagar yang suka dirubuhin supporter timnas atau tim sepakbola yang rusuh 😅

Pas antri gate 41, ternyata sudah ada rombongan kantor yang memang sedang antri untuk masuk gate 41 itu. Setelah diarahkan ke tempat duduk untuk menunggu, baru ngeh. Ternyata yang lain sudah dapat nomor antrian dan gw belom. Alamak. 

Untungnya pak Babinsa sangat membantu sekali. Berhubung nama gw sudah ada di daftar dari kantor, gw langsung dikasih nomor. Urutan 2405 sudara-sudara. Alamak (lagi). Kebayang, dapat giliran disuntik jam 3 sore ini mah. Tapi ya sud lah. Yang penting dapat nomor antrian. Apa yang terjadi, terjadilah.

Sengaja gw duduk di jejeran kursi pinggir, supaya gampang kalo ada apa-apa. Mau ke toilet misalnya, gak usah permisi-permisi sama orang. Ehh, baru bengong-bengong sebentar, pak Babinsa teriak. Kelapa Gading, 10-10 dulu. Langsung aja, dengan pedenya gw samperin. Ternyata gw orang ke-8 yang mendekat. 

"Pak ini nomornya," kata gw pasrah. "Gak usah pake nomor-nomor, pegang aja," katanya. Lha, aman kalo gitu 😁

Rejeki nih gw bisa langsung melenggang kangkung masuk ke lapangan. Sampai pinggir lapangan, dapat instruksi. "Nanti cari tempat duduk yang kosong dan antri untuk disuntik," kata pak petugas lainnya.

Sampe tenda antrian, lihat bangku kosong, duduk lah gw. Ternyata dibagiin form dan harus diisi dengan tulis tangan. Untung ada teman kantor yang bawa ballpoint. Gak lama, begitu meja suntik ada yang sudah selesai, gantian lah kita maju sesuai antrian kursi.

Interview sebentar, ditanya riwayat penyakit, alergi dan lain-lain dan memastikan kita sudah yakin akan divaksinasi Covid-19, kita dicatat lalu siap-siap disuntik di meja sebelah. Dan berhubung gw di sisi kiri, gw kebagian suntik di lengan kiri.

"Keras ya mas," kata mbak petugas suntiknya. Agak heran juga gw. Padahal olah raga kagak pernah, tapi tangan gw kenapa keras gitu ya. Apa gara-gara WFH jadi sering ngangkat galon Aqua? Anyway, diusapin alkohol, lalu disuntik (kayaknya). Kok kayaknya?

Iya, gw juga gak berani lihat jarum suntik nuncep dan isinya diinjeksiin ke tangan gw. Jadinya gw lihat lurus ke depan, gak ke tangan gw atau jarum suntik. Tapi kok gak ada rasa apa-apa. Tiba-tiba si mbaknya bilang, "Sudah pak."

Lha, gw reflek jawab, "Sudah bu?". Rada bingung mbaknya bilang, "Iya sudah." 

Ya sud lah. Trus berkas gw dikembaliin dan ditulis area tempat gw harus antri lagi untuk didata dan mendapatkan kartu vaksinasi Covid pertama.

Sampai sana, antri lagi dan gak lama, gw serahin berkas. Tunggu sebentar, dipanggil lah. Kata mbak petugasnya, gw disuruh balik tanggal 27 Juli untuk vaksinasi kedua di puskesmas terdekat. Lalu ditanya, "Sudah 15 menit belum dari disuntik tadi?"

Kalau sudah, sudah boleh pulang.

Ya sud lah. Berhubung udah lewat 15 menit dari disuntik, ya pulang lah gw. Total jenderal, mulai dari dapat nomor sampe kelar suntik, 30 menit lah. Jam 9.50, gw udah potret kartu vaksinasi Covid-19 gw dan gw infokan di group WA sekalian ijin pulang duluan ke pak Babinsa yang jadi koordinator di group.

Ini mah lamaan bengong-bengong nunggu rombongan warga Kelapa Gading dateng. Tapi ya gpp lah. Untung juga datang pagi-pagi. Bisa foto-foto pemandangan dulu.


Ingin cerita lain gw soal Gelora GBK? Silakan cekidot di sini.

Kembali ke judul atas, apa itu KIPI? Kayaknya gw nggak merasakan efek KIPI sama sekali. Ini gw tulis 24 jam lebih setelah vaksinasi. Gw gak ngerasakan aneh-aneh. Padahal udah bela-belain beli parasetamol, insidal dan obat demam sesuai arahan mbak dokter tadi sebelum gw disuntik karena gw punya alergi dengan antibiotik dan makanan.

Kabarnya, KIPI itu ada 3 macam reaksi:

  • Reaksi lokal: nyeri, bengkak, kemerahan di area bekas suntikan. Reaksi lokal yang terbilang parah yakni selulitis.
  • Reaksi sistemik: demam, nyeri otot seluruh tubuh atau myalgia, nyeri sendi atau artralgia, lemas, dan sakit kepala.
  • Reaksi lain yaitu alergi. Kondisi ini bisa berupa biduran (urtikaria), anafilaksis (alergi parah hingga sesak napas), dan pingsan.

Ketiga reaksi tersebut merupakan reaksi KIPI untuk semua vaksin. Baik Sinovac, Astrazaneca dan lain-lain, bisa membawa KIPI yang sama. Tapi di gw nggak.

Pening, nggak ada. Lapar? Ya lapar, soalnya tadi sampai rumah udah lewat jam makan siang. Ngantuk? Yaa biasa aja sih. Habis makan, kenyang kan emang itu penyakitnya. 

Pegal-pegal, tempat disuntik kebas? Nggak juga. Apa jangan-jangan gw emang beneran nggak disuntik ya, kemaren itu? Nggak berasa soalnya CoronaVac ini efeknya. Tapi ya sud lah ya. Semoga manjur lah.

06 Juni 2021

Telur Ayam Kampung Sabang 16

Kemarin Bang Emmet nyobain yang baru lagi. Kebetulan, kita ada acara pagi-pagi di daerah Jl. Sunda, Gondangdia, Menteng. Berhubung acara baru mulai jam 10, Bang Emmet dan kawan-kawan iseng hunting kuliner di sekitar sana. 

Pilihannya jatuh ke kawasan Jl. Sabang yang terkenal itu. Kali ini, kita akan menjajal sarapan di resto/cafe berjudul Sabang 16 Kopi & Srikaya.

Berhubung memang belum sarapan, Bang Emmet nyari yang agak-agak bisa ganjel perut. Tapi berhubung namanya sarapan, ya sudah, pilihan pun jatuh ke french fries dan hot teh tarik. Lho kok bukan Kopi & Srikaya, Bang? 

Errr, Bang Emmet agak kurang suka yang manis-manis, lebih suka sama yang setia #eh gurih. Lalu kenapa nggak kopi? Bisa aja sih, pilih salah satu dari sekian banyak opsi kopi yang ditawarkan di resto ini. Tapi perut kosong disikat kopi, takutnya malah masalah.


Nah, kalau french fries dan teh tarik aja sih, kan biasa aja ya buat konten. Alhasil, Bang Emmet pun pesan satu menu lagi, yakni telur ayam kampung (yang satu porsinya terdiri dari 2 butir dan setengah matang). 

Yaa nggak aneh sih memang. Tapi di bayangan Bang Emmet, kayak sarapan di hotel gitu ya, telur ayam kampung digoreng setengah matang, ditaruh di piring yang lebar lalu dimakan dengan french fries. Cocok lah kayaknya. Ternyata eh ternyata, penampakannya seperti ini:

Jadi, 2 butir telur ayam kampung setengah matang ini disajikan dalam gelas. Ia juga belum diberikan bumbu apa-apa. 

Untungnya, di setiap meja makan, disediakan garam bubuk dan lada untuk dicampurkan sendiri oleh pengunjung yang memesan. Artinya, dari sisi kelengkapan, tidak ada tambahan apapun yang dimasukkan ke dalam 2 butir ayam kampung tersebut.


Dari sisi porsi, 2 butir telur ayam kampung ini ya memang seperti itu. Mungkin kalau telur ayam negeri, porsinya akan sedikit lebih banyak. Tapi menurut Bang Emmet, by default, telur ayam kampung ini lebih gurih rasanya dibandigkan dengan telur ayam negeri. Kenyang? Ya tentu saja tidak. Tapi ya cukup lah untuk sarapan. Toh Bang Emmet juga ada pesan french fries untuk ganjal.

O ya. Satu porsi telur ayam kampung setengah matang tersebut perlu ditebus di harga Rp15.000. Standar lah ya. Next time kalau ada event lagi di sekitar sini, boleh lah mampir lagi. Masih ada yang perlu dicoba, misalnya Lumpia, Cakwe, Pisang Goreng Coklat Keju, dan tentunya Srikaya Toast-nya itu sendiri.


Sabang 16 Kopi & Srikaya
05 Juni 2021
Telur Ayam Kampung
Rp15.000

Rating:
3.5 - Porsi
3.5 - Rasa
3.5 - Penyajian
3.5 - Harga
3.5 - Overall

15 Mei 2021

Review Jujur Bakso Spesial Jumbo, Bakso Ncess yang Kekinian

Hari ketiga lebaran. Udah lumayan begah makan santan dan ketupat. Jadinya, tadi siang di rumah, Ny.Emmet bikin nasi goreng. Simpel, tapi seenggaknya beda dengan makanan khas lebaran. Nah, buat sore-malem, makan apa lagi ya? Gak lapar-lapar amat sih, tapi pengennya yang seger-seger juga. Suki? Lagi gak mood. Bakso? Kayaknya pilihan yang masuk akal, masuk perut.

Alhasil, bakso lah. Kebetulan, beberapa hari lalu Ny. Emmet habis WhatsApp-an dengan temannya di Bandung. Di sana lagi trending Bakso Ncess. Apa pula itu. Katanya asalnya malah dari Jakarta dan sudah ada 2 cabang. Satu di Tegal Parang, satunya di Mangga Besar.


Berhubung gak hafal daerah Selatan, ya Bang Emmet pilih ke Mangga Besar aja lah. Nggak kenal-kenal amat juga sih daerah sini, taunya Mangga Dua. Tapi ya, mustinya sih gak nyasar lah.

Anyway, berangkat lah kita ke sana. Tempatnya Jl. Mangga Besar Raya No 96 Jakarta Pusat (depan Diva Karaoke). Untungnya, pas kita ke sana, Diva Karaoke-nya lagi tutup. Kalau nggak, parkirannya paling cuma muat 3 mobil atau beberapa motor saja. Dan dia modelnya cafe container dengan dua meja kecil untuk maksimal 6 pengunjung dine-in. Itupun kayaknya share seat dengan Kopi Penyejuk Jiwa, container di sebelahnya.

Untungnya lagi, pas kita parkir, pas tamu yang mengokupasi salah satu meja sudah selesai dan pulang. Jadi kita dapat seat. Langsung saja kita tag dan pilih menu. Kali ini, Bang Emmet pilih Bakso Spesial Jumbo. Begini penampilannya:

Dari sisi penampilan, yummy. Bakso disajikan dalam mangkuk biasa dengan sendok dan garpu. Siap memenuhi hasrat Bang Emmet untuk menyikat makanan berkuah-kuah dan bebas santan. Sayangnya mangkuknya mangkuk bakso biasa, bukan mangkuk yang agak besar sehingga Bang Emmet bisa nambah kuah (you know what I like).


Dari sisi kelengkapan, empat buah bakso besar-besar, lengkap dengan mie kuning-mie putih (bisa pilih varian mie-nya mau yang mana saja), seledri dan bawang goreng ditaburkan di sana untuk melengkapi aroma. Baksonya ini sendiri terdiri dari masing-masing bakso cincang, bakso urat, bakso keju dan bakso telor puyuh.

Dari sisi porsi, yaa standar saja sih, sama seperti bakso pada umumnya. Memang ini solusi untuk pas kita lagi nggak lapar-lapar amat, tapi ya mencari kudapan yang cukup mengenyangkan. Dan yang penting, rasanya nih.

Bakso Ncess ini punya tagline "aduhh gustiii..." yang kabarnya menggambarkan betapa enaknya bakso yang satu ini. Nah, ini. Bang Emmet perlu mengakui, tagline itu akurat 100% untuk kuah baksonya. Dia sepertinya tidak pakai micin atau kalaupun pakai, cuma sedikit. 

Badan Bang Emmet punya sensor yang men-trigger tenggorokan otomatis dahaga kalau habis makan makanan yang bermicin apalagi micin berlebih. Yang pasti, untuk membuat kuahnya nikmat, mereka menggunakan sumsum sapi. Metodenya persis sama seperti yang dilakukan Ny. Emmet saat dulu sempat dagang Bakwan Malang. Sampai di sini, good job!

Lalu baksonya? Jujur, ada yang enak, ada yang biasa saja. Buat Bang Emmet, bakso keju dan bakso telor puyuhnya oke. Tapi untuk bakso urat dan bakso cincang-nya, Bang Emmet pernah makan yang lebih enak di Tasikmalaya, kampung halaman nyonyah. 

Entah pas Bang Emmet lagi apes aja atau memang seperti itu, baksonya terasa sedikit agak keras, kurang kenyal. Tapi ya, ini soal selera. Mungkin ada orang yang lebih suka bakso yang sedikit keras dan tidak kenyal. Dan untuk saosnya, standar supermarket. Buat yang sering mampir ke sini, pasti tahu kesan Bang Emmet untuk saos seperti ini. 

Lalu, apakah lain kali akan mampir lagi ke Bakso Ncess? Tampaknya, kalaupun iya, Bang Emmet mau nyoba yang di Tegal Parang saja. Yang di sini, kurang leluasa untuk santai-santai. Lebih cocok untuk take away, atau titip babang ojol seperti yang mampir pas Bang Emmet dan nyonyah sedang menyantap tadi.

Bakso Spesial Jumbo, Bakso Ncess
15 Mei 2021
Bakso Special Jumbo
Rp57.000

Rating:
4.0 - Porsi
4.0 - Rasa
4.0 - Penyajian
3.5 - Harga
3.8 - Overall

07 Mei 2021

Doa Malam Lailatul Qadar

Bagi umat islam yang menjalankan ibadah shaum Ramadan, malam Lailatur Qadar adalah malam yang dinanti-nantikan kehadirannya. Alasannya, kemuliaan satu malam di bulan Ramadan ini nilainya lebih daripada seribu bulan.

Kemuliaan malam Lailatul Qadar ini sendiri dijelaskan dalam Alquran surat Al-Qadr. Dalam surat tersebut, dijelaskan bahwa pada malam Lailatul Qadar, semua malaikat beserta malaikat Djibril turun ke bumi atas perintah Allah dengan membawa segala kebaikan. 

Yang lebih istimewa, ada keselamatan yang diberikan pada malam itu hingga pagi harinya.

Meski begitu, tidak ada yang bisa mengetahui secara pasti kapan terjadinya malam Lailatul Qadar di setiap bulan Ramadan. 

Sebagian ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar adalah misteri yang hanya Allah saja yang mengetahui kapan kedatangannya. Ada pula yang berpendapat bahwa Lailatul Qadr pasti jatuh pada malam ke-27 Ramadhan. 

Adapun Sebagian ulama lain berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. 

Pendapat ini juga merujuk pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Aisyah. Rasulullah bersabda, "Carilah malam qadar pada satu malam ganjil di antara sepuluh malam yang terakhir bulan Ramadan." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa'i dan Ibnu Majah). 

Cara Meraih Kesempurnaan Malam Lailatul Qadar
Kapan turunnya malam Lailatul Qadar bukanlah menjadi urusan kita. Namun kita yang ingin mendapatkannya, dan meraih kesempurnaan saat malam Lailatul Qadar tiba, kita dianjurkan untuk memperbanyak I’tikaf di masjid. Kegiatan tersebut diisi dengan mengerjakan ibadah dan berdoa kepada Allah. 

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, "Barang siapa yang pada malam Lailatul Qadar mengerjakan ibadah dan berdoa dengan penuh keimanan yang dipersembahkan semata-mata untuk Allah, akan diampuni dari segala dosanya yang terdahulu dan yang akan datang." (HR. Ahmad/Tabrani). 

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW membangunkan anggota keluarganya pada malam itu untuk memperbanyak ibadah. Rasulullah SAW juga mengajarkan untuk memperbanyak doa. Sebab, pada dasarnya Lailatul Qadar termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Lalu apa doanya?

Doa Malam Lailatul Qadar
Terdapat do’a yang biasanya dibaca pada malam Lailatul Qadar, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW. Berikut doa Lailatul Qadar: 

"Allaahumma innaka 'afuwwun kariim tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii." 

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Mulia, senang memberikan ampun, maka ampunilah aku." (HR. Ibnu Majah). 

Aisyah menyebutkan, Rasulullah sering membaca doa Lailatul Qadar agar bisa mendapatkan keutamaan malam yang lebih baik dari seribu bulan itu.

Dan doa Lailatul Qadar ini bisa dibaca sesering mungkin di bulan Ramadan, terutama pada 10 hari terakhir. Doa Lailatul Qadar yang dibaca Nabi Muhammad tersebut juga bisa dikombinasikan dengan doa lain.

Wallahu'alam bissawab.

02 Mei 2021

Nasi Uduk Enak di Alam Sutera, Nasi Uduk Nyak Babeh

Beberapa waktu lalu, sebelum Ramadan pastinya, Bang Emmet dan Nyonya kelaparan pulang dari BSD. Lha, di sekitaran BSD kan banyak tempat makan Bang? Iya memang, tapi pas di sana lagi lumayan ribet dan nggak kepikir untuk makan. Nah, setelah beranjak pulang, saat kita mengarah ke Alam Sutera untuk masuk tol arah Tomang, baru berasa keroncongan.

Waktu memang menunjukkan jam-jam nanggung, sekitar jam 5-an sore. Belum waktunya makan malam, tapi udah lumayan terlambat untuk ukuran makan siang. Dan kalau sudah di sekitaran sini, biasanya kita belok ke Pasar 8 Alam Sutera. Kawasan ini bisa dibilang surganya jajanan kaki lima. Lumayan berbeda dengan tetangga sebelahnya, yang hanya berselisih beberapa meter saja, The Favor Bliss Alam Sutera yang surganya kuliner kekinian (baca: middle-high).

Berhubung sudah sering ke sini, dan biasanya kalau ke sini kita cari soto atau seafood, kali ini kita ingin nyoba yang lain. Dan pilihan jatuh ke Nasi Uduk Nyak Babeh yang katanya lagi promo 36 ribu saja. Cuss lah, sudah lama juga nggak makan nasi uduk. Begini penampilannya:

Dari sisi penampilan sih, penyajiannya unik juga. Nggak pakai piring, tapi pakai tampah bambu yang diberi lapisan kertas pembungkus makanan. Tampahnya pun lumayan besar, jadi pas kita makan, kita bisa naro tulang-tulang atau sampah makanan kita di pinggir tanpa tercampur lagi ke makanan kita.

Dari sisi kelengkapan, yaa lengkap sekali. Selain nasi uduk dan pecel lele, kita juga dapat tempe dan tahu goreng, lengkap dengan ati ampela. Lalapannya pun cukup timun dan daun selada. Okelah, meskipun tidak pakai tomat, tapi nggak ada kemangi yang biasanya nggak guna karena Bang Emmet nggak suka baunya.

Untuk porsi, yaa jujur saja, buat Bang Emmet, nasi segunduk kecil itu sih nggak cukup ya. Apalagi kalau kondisi sedang keroncongan gini. Tapi kalau untuk ukuran perut normal sih, relatif oke lah. Nah, lalu bagaimana soal rasa?

Semuanya sesuai ekspektasi. Nasi uduknya enak, pulen. Aroma khas nasi uduknya pun pas. Lele goreng, ya seperti itu rasanya. Tahu - tempe - ati ampela goreng juga memang seperti itu. Timun dan daun selada? Ya memang seperti itu juga rasanya. Sambalnya? Nah ini. Oke sih, tapi sambal di tempat langganan Bang Emmet dan Nyonyah makan pecel lele, rasanya lebih pas. Tapi yang menarik, di warung tenda nasi uduk yang satu ini, kita dapat fasilitas unlimited kerupuk. Waini!

Alhasil, masuk ke urusan harga, sesuai informasi yang ditayangkan di roll-up banner, Nasi Uduk Nyak Babeh Promo 36K udah dapat semua ini, rasanya jadi worth the money. Next time balik lagi ke sini? Kemungkinan besar, kalau lagi di sekitaran sini dan pengen nasi uduk sih, jawabannya iya.

Nasi Uduk Nyak Babeh
1 April 2021
Paket Lele + Teh Tawar Hangat
Rp36.000

Rating:
4.0 - Porsi
4.0 - Rasa
4.5 - Penyajian
4.0 - Harga
4.1 - Overall

01 Mei 2021

Pulau Dua Restaurant, Senayan, Jakarta

Setelah sekian lama merasakan penat tanpa bisa menikmati piknik, akhirnya beberapa waktu lalu Bang Emmet "piknik" juga. Nggak jauh-jauh sih memang, cuma ke Pulau Dua. Di mana tuh Bang?

Meskipun namanya pulau, tapi pulau yang satu ini, justru letaknya bukan di kepulauan seribu, Jakarta Utara. Melainkan di bilangan Senayan, Jakarta Selatan.


Sebenernya dulu, udah lama banget, Bang Emmet pernah ke restoran yang satu ini. Jauh sebelum pandemi, malah jauh sebelum Bang Emmet alih profesi.

Dulu jaman jadi wartawan, Bang Emmet sering jalan-jalan, ke tempat-tempat yang rupawan. Baik di negara sendiri, ataupun di negara kawan.

Nah, salah satu tempat menarik yang pernah Bang Emmet sambagi adalah Pulau Dua Restaurant ini. Kenapa Bang Emmet bilang menarik?

Kalau soal restoran dan makanannya, oke lah ya. Standar kelas wahid. Tapi yang bikin dia berbeda dengan restoran lainnya itu ya karena tempatnya.

Ya, tempat ini ibaratnya seperti hidden gem, atau tempat persembunyian yang nyaman dari hiruk pikuknya ibu kota, meski posisinya sendiri justru di tengah-tengah ibu kota negeri ini.


Yang bikin nyaman itu, karena tempatnya yang luas dan asri, dengan pemandangan yang menyejukkan. Lihat saja.










Kebetulan, beberapa waktu lalu Bang Emmet bersama beberapa teman ingin kumpul-kumpul, tentunya dengan social distancing dan standar protokol kesehatan lho ya. Dan berhubung sebaiknya nggak pergi-pergi ke luar kota dulu, dipilihlah lokasi ini.






Tuh kan, asri.. adem.


Kata petugas penjaga masjid, kalau malam, lebih banyak lagi yang mancing di pinggir danua. Bahkan sampai menjelang pagi. Dan danau luas yang dalamnya sekitar 2-3 meter ini pun banyak ikannya.









Akhir kata, Pulau Dua Restaurant ini tempat yang cocok jika ingin melepas penat, menikmati sajian nikmat, tanpa perlu jauh-jauh dari rumah berangkat. Coba deh.